Ekonomi kreatif Indonesia kini menjadi salah satu motor penggerak baru. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sektor ini menyumbang 7,3 persen dari PDB nasional, atau lebih dari Rp1.300 triliun pada 2023. Angka itu sudah besar, tapi target berikutnya jelas: bagaimana mendongkrak kontribusi ekonomi kreatif hingga menembus 8 persen PDB.
Jika dihitung, tambahan 0,7 persen PDB berarti sekitar Rp146 triliun. Bukan jumlah kecil, tapi peluangnya sangat terbuka jika strategi dijalankan dengan tepat.
Menggarap Ekspor dan Pasar Global
Subsektor unggulan seperti fesyen, kriya, kuliner, serta aplikasi dan game digital bisa menjadi mesin utama. Indonesia sudah punya modal budaya dan kreativitas, tinggal memperluas pasar ekspor melalui perjanjian dagang internasional. Korea Selatan sukses mengekspor K-Pop dan drama, Indonesia pun bisa dengan batik, kuliner, dan gim buatan anak negeri.
Digitalisasi: Kunci Keberhasilan
Transformasi digital terbukti memperluas pasar. Dengan dorongan ke marketplace online dan dukungan untuk startup kreatif berbasis teknologi, pelaku lokal bisa menjangkau konsumen global. India berhasil mendorong industri film dan IT ke kancah dunia melalui strategi digital, dan Indonesia punya peluang serupa.
Modal dan Insentif Pajak
Salah satu hambatan klasik pelaku kreatif adalah permodalan. Pemerintah bisa memperluas skema creative funding lewat bank, venture capital, dan crowdfunding. Insentif pajak untuk investor di industri kreatif juga bisa menarik arus modal baru, seperti yang dilakukan Inggris untuk industri film dan animasi.
SDM dan Branding
Investasi pada pendidikan vokasi, inkubator kreatif, dan pelatihan digital wajib diperkuat. Selain itu, promosi merek nasional lewat kampanye “Indonesia Kreatif” dan event global—mulai dari festival film hingga fashion week—akan meningkatkan posisi Indonesia di peta dunia.
Sinergi dengan Pariwisata
Setiap wisatawan asing yang datang adalah konsumen potensial produk kreatif. Paket wisata kuliner, workshop batik, hingga pertunjukan seni bisa menjadi cara efektif mendongkrak devisa. Jepang sudah membuktikan lewat anime dan kuliner yang dipadukan dengan turisme.
Target Tiga Tahun
Dengan prioritas pada ekspor fesyen dan kriya (Rp70 triliun), subsektor digital seperti aplikasi dan game (Rp40 triliun), serta kuliner-pariwisata kreatif (Rp36 triliun), target Rp146 triliun tambahan bisa tercapai dalam 2–3 tahun.
Singkatnya, ekonomi kreatif Indonesia punya jalan lebar untuk tumbuh. Tantangan utamanya bukan pada bakat atau ide—itu sudah melimpah—melainkan pada keberanian eksekusi strategi. Dari 7,3 persen ke 8 persen bukan hanya soal angka, melainkan juga langkah konkret menuju Indonesia kreatif yang mendunia.



