Untuk pertama kalinya, tiga daerah di Malang Raya—Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu—resmi berkolaborasi menjadi tuan rumah bersama dalam ajang Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025 yang mengusung tema “Nusantaraya – Senyawa Malang Raya.” Ajang tahunan ini menjadi ruang pertemuan strategis bagi pelaku ekonomi kreatif dan pemerintah daerah untuk memperkuat jejaring serta berbagi inspirasi tentang pembangunan ekosistem kreatif berbasis budaya.
Kegiatan puncak ICCF 2025 ini digelar di Kawasan Wisata Boonpring, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, pada Minggu, 9 November 2025. Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha Djumaryo, yang didampingi oleh Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, M.M., dan Wakil Bupati Malang Dra. Hj. Lathifah Shohib. Rangkaian acaranya meliputi Festival Ekonomi Kreatif 2025, Launching Logo Branding Pariwisata Kabupaten Malang, Peresmian Boonpring Bamboo Living Museum, Peresmian Pasar Wisata Boonpring, Grand Final Duta Wisata Joko Roro Cilik, hingga Gebyak Wayang Topeng Malang.
Dalam sambutannya, Wamen Kebudayaan Giring Ganesha mengapresiasi pelaksanaan festival ini yang dinilai menjadi contoh ideal sinergi antara pemerintah daerah, pelaku ekonomi kreatif, dan masyarakat. Ia menegaskan bahwa kegiatan di Boonpring membuktikan bagaimana kolaborasi lintas sektor mampu mengangkat potensi budaya menjadi sumber kekuatan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Salah satu sorotan utama festival adalah Gebyak Wayang Topeng Malang, pertunjukan kolosal yang menampilkan perpaduan tari, musik gamelan, dan kisah Panji. Penampilan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi simbol pelestarian Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang telah diakui sejak 2014. Cerita Panji yang menjadi inti dari Wayang Topeng Malang bahkan telah tercatat dalam Memory of the World UNESCO sejak 2017, menegaskan nilai sejarah dan filosofi budaya Jawa Timur yang mendalam.
“Wayang Topeng Malang bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan simbol pelestarian warisan budaya dunia yang harus terus kita hidupkan. Festival ini adalah wujud nyata dari sinergi antara budaya dan ekonomi kreatif, di mana tradisi dan inovasi saling menguatkan,” ungkap Wamen Giring dalam keterangannya.
Suasana Boonpring Turen pun semakin hidup dengan harmoni gamelan dan gerak anggun para penari topeng yang menggambarkan keindahan spiritualitas Jawa Timur bagian timur. Perpaduan seni, alam, dan kreativitas ini menghadirkan pengalaman budaya yang autentik, sekaligus menegaskan posisi Kabupaten Malang sebagai pusat budaya yang memadukan tradisi dan kemajuan.
Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, M.M., menambahkan bahwa melalui Festival Ekonomi Kreatif ini, Kabupaten Malang ingin menunjukkan dirinya bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bagi pelaku ekonomi kreatif di berbagai subsektor—mulai dari kuliner, kriya, fashion, film, musik, fotografi, hingga teknologi digital.
“Kabupaten Malang memiliki DNA kreatif yang kuat dari komunitas seni tradisi seperti wayang topeng dan batik Malangan. Kami ingin mempertegas posisi Kabupaten Malang sebagai Creative and Cultural Destination of East Java,” ujarnya.
Lebih jauh, Pemerintah Kabupaten Malang meyakini bahwa pengembangan ekonomi kreatif merupakan bagian dari strategi besar pembangunan daerah berkelanjutan. Sinergi antara budaya, ekonomi, dan pariwisata diharapkan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi tanpa meninggalkan akar tradisi dan kelestarian lingkungan. ICCF 2025 menjadi bukti bahwa desa wisata seperti Boonpring dapat menjadi sumber inspirasi nasional dalam mewujudkan pembangunan budaya yang inklusif, inovatif, dan berdaya saing global.






