Setelah vakum selama satu tahun, Mbois Noise kembali mengguncang Kota Malang dengan format baru bertajuk Mbois Noise Fest 2025. Gelaran ini merupakan bagian dari dua perayaan kreatif terakbar, yakni Festival Mbois 10 (FMX) dan rangkaian besar Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025 – NUSANTARAYA.
Mbois Noise Fest 2025 ini adalah persembahan istimewa dari Jawadipa Records, sebuah kolektif metalhead yang peduli terhadap kemajuan dan publikasi karya musik underground di Malang. Acara ini digelar pada 6–8 November 2025 di Outdoor Stage Malang Creative Center (MCC) pukul 18.00–21.00 WIB.
Berbeda dari gigs rock pada umumnya, Mbois Noise Fest dikenal sebagai satu-satunya panggung underground yang penontonnya tidak moshingan—tarian ekstrem yang dilakukan di konser musik—namun tetap menikmati musik cadas dengan energi penuh dari tribun: menikmati distorsi, menghargai karya, dan tetap beretika.
“Skena underground adalah salah satu skena tersolid dan berwarna dalam berkarya. Event seperti ini harus terus ada, supaya masyarakat luas paham bahwa musik ini juga bisa dinikmati sebagai sarana meluapkan emosi dan curahan hati,” ujar Mary Jona, salah satu founder Mbois Noise sekaligus perwakilan Malang Creative Fusion (MCF).
Sementara itu, Fandi Cahya, Project Leader Mbois Noise Fest sekaligus Founder Jawadipa Records, menegaskan bahwa festival musik underground ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah gerakan yang membawa semangat kemajuan dan kebebasan berekspresi bagi para musisi Malang Raya.
“Event berkelas seperti Mbois Noise Fest ini akan terus ada demi kemajuan dan publikasi karya para musisi Malang Raya khususnya. Swara Nusantaraya menjadi semangat bersuara demi Indonesia yang lebih baik, yang bebas berekspresi dan berdaya cipta,” ungkap Fandi.
Selama tiga hari penuh, Mbois Noise Fest 2025 telah menyajikan distorsi di Outdoor Stage MCC. Dengan line-up solid yang dikurasi dengan cermat, acara ini dibuka pada hari Kamis, 6 November 2025, dengan gempuran dari GLYPH, The Reeves, Garden Graves, dan Incremation.
Memasuki hari kedua, Jumat, 7 November 2025, panggung dibuat semakin panas oleh energi yang diboyong oleh Toxictoast, Red Valley, Utkarsa, dan Vespherya. Pada hari terakhir, Sabtu, 8 November 2025, pesta musik keras ini ditutup dengan sempurna oleh penampilan dari Theatering, Osirix, Botol Kecap, dan Mori.
Penampilan band-band cadas lintas generasi ini semakin menegaskan posisi Malang sebagai salah satu barometer musik keras di Indonesia—kuat dalam komunitas, solid dalam karya—yang sekaligus menjadi manifesto Mbois Noise Fest 2025. Acara ini dihadirkan tidak hanya sebagai showcase paling jujur bagi musik keras independen Malang Raya, tetapi juga sebagai penegas bahwa skena underground adalah pilar penting dalam ekosistem kreatif kota.
Mbois Noise Fest 2025 juga mengemban misi unik untuk membuktikan bahwa sebuah gigs rock bisa tetap teratur dan santun, tanpa kehilangan identitas cadasnya. Pada akhirnya, gelaran Mbois Noise Fest tahun ini adalah momentum untuk menghidupkan kembali kolaborasi lintas komunitas musik dan kreatif di Malang Raya.
Lebih dari itu, sebagai bagian dari FMX dan ICCF 2025, Mbois Noise Fest jadi bukti nyata bahwa musik underground juga berperan dalam mewarnai ekosistem kreatif global. Kehadirannya menegaskan bahwa semangat independen, kebersamaan, dan cinta terhadap musik keras bisa menjadi kontribusi nyata bagi kebudayaan dan kreativitas lokal.



