Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengeklaim bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah tewas dalam serangan gabungan yang dilancarkan oleh Israel-AS. Hal tersebut diungkapkan oleh Trump melalui sebuah pernyataan di media sosial Truth pada Minggu, 1 Maret 2026.
“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas,” ungkap Trump sebagaimana dikutip dari unggahan Gedung Putih di X. Ia menyebut bahwa kematian pemimpin Iran ini sebagai bentuk keadilan yang telah lama dinantikan rakyat Tanah Persia dan komunitas internasional.
Ia mengungkapkan bahwa Khamenei tidak mampu meloloskan diri dari sistem pelacakan canggih milik intelijen AS. Operasi militer ini disebut sebagai hasil kerja sama erat dengan pihak Israel untuk melumpuhkan para pemimpin tertinggi yang dianggap bertanggung jawab atas kekejaman global.
Donald Trump mengatakan bahwa peristiwa ini merupakan kesempatan bagi rakyat Iran untuk merebut kembali kedaulatan negara mereka. “Ini adalah satu-satunya kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali negara mereka,” ungkap Presiden AS ke-45 dan ke-47 tersebut.
Ia juga menyebutkan bahwa laporan intelijen AS menunjukkan bahwa banyak anggota Garda Revolusi (IRGC) dan pasukan keamanan Iran mulai enggan untuk berperang. Ia pun menawarkan jaminan kekebalan bagi mereka yang bersedia menyerah dan bergabung dengan gerakan patriotik saat ini.
Meskipun demikian, Donald Trump memperingatkan bahwa operasi pengeboman udara yang presisi akan tetap dilakukan oleh AS dan Israel secara intensif di wilayah tersebut. Operasi militer ini menurutnya perlu untuk memastikan stabilitas dan menghentikan sisa-sisa kekuatan rezim yang masih bertahan.
Ia mengeklaim bahwa serangan ke Iran tersebut untuk menciptakan perdamaian dunia. “Pemboman yang berat dan presisi akan tetap berlanjut tanpa henti sepanjang minggu ini, atau selama diperlukan, untuk mencapai tujuan kita, yaitu perdamaian di seluruh Timur Tengah dan tentu saja, dunia,” tegasnya.
“Khamenei, one of the most evil people in History, is dead. This is not only Justice for the people of Iran, but for all Great Americans, and those people from many Countries throughout the World, that have been killed or mutilated by Khamenei…” – President Donald J. Trump pic.twitter.com/oXZTFGg5pS
— The White House (@WhiteHouse) February 28, 2026
Sebagaimana diketahui, Israel dan AS melancarkan serangan udara masif ke Iran pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026, yang memicu ledakan hebat di Teheran. Serangan ini dilaporkan menghantam berbagai situs militer hingga infrastruktur sipil, termasuk sebuah sekolah dasar di Minab yang menewaskan puluhan orang.
Presiden AS, Donald Trump, mengeklaim bahwa serangan tersebut bertujuan melenyapkan ancaman dari rezim Iran demi membela kepentingan rakyat Amerika. Sebaliknya, Teheran kini bersiap melakukan aksi balasan yang menghancurkan dan menyatakan seluruh aset AS serta Israel di Timur Tengah sebagai target sah.
Eskalasi perang ini dengan cepat meluas hingga ke negara-negara Teluk Arab seperti Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain. Iran dilaporkan sengaja menyeret negara-negara kawasan ke dalam konflik guna menekan Washington agar segera menghentikan peperangan yang sedang berlangsung.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, turut menyebut serangan ini sebagai langkah untuk melenyapkan ancaman eksistensial terhadap negaranya. Akibat gempuran udara dan laut yang masif tersebut, jaringan komunikasi di ibu kota Iran dilaporkan mengalami gangguan parah yang membuat warga terisolasi.
Di sisi lain, Israel telah menetapkan status darurat nasional serta menutup seluruh ruang udara bagi penerbangan sipil guna mengantisipasi serangan balasan Iran. Beberapa pengamat menilai serangan ini sengaja dilancarkan untuk merusak jalur negosiasi yang sebenarnya sedang diupayakan kedua belah pihak.




