Band reggae asal Kota Malang, Tropical Forest, secara resmi merilis singel terbarunya yang berjudul “Mikro Plastik” tepat pada peringatan Hari Bumi, Selasa, 22 April 2025. Karya yang lahir dari kedalaman nurani lingkungan ini hadir sebagai bagian dari album kompilasi Make Our Home Great Again (MOHGA) Vol. 1.
Singel ini menjadi suara baru dalam perjuangan melawan kerusakan alam, terutama ancaman mikro plastik yang semakin masif mencemari ekosistem laut. Lewat lirik-lirik tajam yang berpadu dengan aransemen Reggae Dub Wise hasil kolaborasi bersama Gasa Riddim, lagu ini mengajak pendengar merefleksikan kembali gaya hidup manusia modern.
Tropical Forest dalam pernyataan resminya menyebut karya ini bukan sekadar musik, melainkan jeritan laut dan makhluk kecil yang selama ini tidak pernah bersuara. Pesan yang ingin disampaikan lewat lagu ini sangat mendalam, yakni mengenai bagaimana sampah plastik akhirnya akan kembali masuk ke dalam rantai makanan manusia.
“Kami ingin lagu ini menjadi pengingat bahwa plastik yang kita buang hari ini, akan kembali ke tubuh kita dalam bentuk mikro, dalam makanan, air, bahkan udara,” tegas Tropical Forest. Melalui rilis ini, mereka juga mengajak semua pihak untuk memulai langkah kecil seperti mengurangi sampah plastik sekali pakai hingga menyuarakan keadilan ekologis.
Melalui lagu ini, Tropical Forest berharap mampu membangkitkan kesadaran kolektif untuk lebih peduli terhadap masa depan lingkungan hidup di tengah ancaman krisis iklim. Mereka menekankan bahwa tindakan nyata hari ini merupakan penentu keberlangsungan hidup seluruh makhluk di masa yang akan datang.
Karya ini sudah tersedia di berbagai platform digital sehingga pesan-pesan penyelamatan lingkungan di dalamnya dapat menjangkau audiens yang lebih banyak. Peluncurannya bersama kompilasi MOHGA Vol. 1 menjadi momentum penting bagi skena musik kreatif dalam merespons isu-isu global melalui karya seni.
“Mikro Plastik sudah bisa dinikmati di berbagai platform digital bersamaan dengan peluncuran kompilasi MOHGA Vol.1. Mari dengarkan, resapi, dan bertindak. Karena bumi bukan warisan nenek moyang, tapi titipan untuk generasi mendatang,” demikian ditegaskan Tropical Forest dalam pernyataan resminya.



