Konten kreator, Sherly Annavita Rahmi, mendapat teror yang diduga karena kritik pedasnya kepada pemerintah terkait penanganan bencana di Sumatra. Melalui akun Instagram pribadinya @sherlyannavita, ia menunjukkan bukti mobilnya yang dirusak dengan cat semprot serta rumahnya yang dilempari sekantung telur busuk.
Aksi intimidasi tersebut juga disertai dengan pesan tertulis yang menuding Sherly memanfaatkan isu bencana untuk kepentingan popularitas pribadi. Pelaku teror memberikan peringatan keras melalui selebaran agar dirinya berhenti menggiring opini terkait penanganan bencana yang terjadi di wilayah Sumatra.
“SHERLY!!!!!!!!!!!!!! JGN KAU MAANFAATKAN BENCANA DI ACEH UNTUK MENCARI POPULARITAS MURAHAN DAN UNTUK MENAMBAH CUAN BUAT KAMU PRIBADI JGN KAMU MENGIRING OPINI SESAT,” tulis pelaku teror dalam pesan ancamannya yang juga menyertakan simbol mulut dicoret.
Sherly menjelaskan bahwa rangkaian teror ini mulai terasa masif setelah dirinya hadir sebagai narasumber di beberapa acara TV untuk memberikan pandangan terkait bencana di Sumatra. Ia menduga kuat bahwa aktivitas kritiknya terhadap kebijakan pemerintah di lapangan menjadi pemicu munculnya serangan yang dianggapnya terorkestrasi tersebut.
Melalui pernyataan tertulis di media sosialnya, Sherly menegaskan bahwa perbedaan pendapat yang ia sampaikan murni didasari oleh rasa sayang terhadap bangsa dan keinginan melihat keadilan. Ia memastikan bahwa sikap kritisnya bukan didasari oleh kebencian pribadi terhadap presiden maupun pemerintah, melainkan harapan akan kemakmuran rakyat.
“Kalau pun sekarang Sherly berbeda pendapat dengan Pemerintah dan Pak Presiden terkait penanganan bencana atau lainnya, itu Sherly pastikan bukan karena kebencian,” tegas Sherly dalam salah satu slide pernyataan di akun Instagram pribadinya.
Sherly juga menyinggung bahwa pengalaman intimidasi ini mengingatkannya pada kejadian tahun 2019 setelah ia tampil vokal mengkritisi ide pemindahan Ibu Kota di sebuah program televisi nasional. Baginya, pola teror seperti ini merupakan bentuk tekanan yang tidak sehat bagi anak-anak bangsa yang ingin berkontribusi melalui pemikiran kritis di ruang publik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari aparat penegak hukum terkait aksi teror yang menimpa Sherly Annavita tersebut. Publik kini menaruh perhatian serius pada kasus ini, mengingat kebebasan berpendapat merupakan hak warga negara yang secara sah dilindungi oleh konstitusi negara.
Insiden ini menambah daftar panjang aksi intimidasi terhadap konten kreator yang bersuara kritis, menyusul kejadian serupa yang sebelumnya menimpa DJ Donny di penghujung tahun 2025 ini. Masyarakat mendesak agar praktik premanisme fisik dan digital segera dihentikan guna menjaga marwah demokrasi serta keselamatan warga negara di Indonesia.



