Update Tanah Longsor di Bandung Barat: 53 Jenazah Ditemukan, 35 Korban Berhasil Teridentifikasi

Tim SAR gabungan saat berhasil menemukan jenazah korban tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, pada Senin, 26 Januari 2026. Foto: BNPB

Tim operasi pencarian dan pertolongan (Search and Rescue-SAR) gabungan berhasil menemukan total 53 jenazah korban tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Dari jumlah tersebut, sebanyak 35 jenazah di antaranya telah berhasil teridentifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI).

Hasil operasi SAR tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, saat melakukan kunjungan ke lokasi terdampak pada Rabu, 28 Januari 2026. Ia menyampaikan bahwa ahli waris keluarga korban yang teridentifikasi telah mendapatkan santunan dari Kementerian Sosial (Kemensos).

Suharyanto menambahkan bahwa hingga kini tim SAR gabungan dengan dibantu alat berat dan anjing pelacak masih terus melakukan operasi pencarian. Ia mengatakan bahwa masa tanggap darurat ditargetkan selesai dalam dua minggu ini dan tidak diperpanjang. Ia juga berharap situasi pascabencana dapat segera kembali pulih dan terkendali.

Dalam upaya mendukung operasi pencarian tersebut, ia mengatakan bahwa BNPB turut melakukan Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC. Menurutnya, hal ini dilakukan karena cuaca hujan yang terjadi di lokasi memperlambat upaya pencarian serta kondisi tanah yang labil akan membahayakan para personel saat beroperasi di kawasan longsoran.

“Cuaca (di lokasi terdampak tanah longsor) hujan terus. Namun, kita melakukan operasi modifikasi cuaca. Alhamdulillah bisa membantu, walaupun tidak sama sekali menghentikan (hujan),” ujarnya. Untuk itu, jika cuaca di lokasi terang, dia menyebutkan bahwa para personel SAR akan segera melakukan pencarian dan evakuasi di lokasi terdampak.

Terkait proses pemulihan, Suharyanto mengatakan bahwa BNPB dan pemerintah daerah telah mendata jumlah rumah rusak berat atau hancur akibat tanah longsor, yakni sebanyak 48 unit. Selain rumah pada kondisi tersebut, Kepala BNPB juga menyampaikan perlunya identifikasi rumah-rumah yang terancam dan harus direlokasi.

“Badan Geologi Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral, red) juga sedang mendata. Kira-kira, di samping 48 tadi, apakah ada rumah-rumah masyarakat yang memang harus direlokasi,” ujarnya. Ia mengaku telah meminta pemerintah daerah untuk mencarikan lokasi atau lahan yang nantinya diperuntukkan bagi relokasi warga terdampak.

Dalam kesempatan tersebut, Suharyanto mengungkapkan bahwa pemerintah melalui BNPB akan memberikan dana tunggu hunian (DTH) kepada keluarga yang terdampak langsung dan saat ini tinggal bersama keluarga atau kerabat. Ia mengatakan bahwa bantuan tersebut akan diberikan mulai bulan Januari ini hingga Maret nanti.

“Kemudian, apabila mereka memang terdampak langsung dan harus mengungsi di rumah keluarganya, tidak apa-apa. Haknya juga akan diberikan kalau rumahnya rusak, hilang, atau rusak berat. Mereka juga akan mendapatkan dana tunggu hunian,” ungkap mantan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) V/Brawijaya tersebut.

Artikel Lainnya

Polisi Tersangkakan Dua Korban Penembakan PT ABS dan Seorang Petani Perempuan di Pino Raya

BMKG Tegaskan Operasi Modifikasi Cuaca Murni Upaya Mitigasi Bencana Berbasis Sains

Pendakian Gunung Bokong dan Panderman Dibuka Kembali Mulai 29 Januari 2026