Packaging atau “kemasan” luar memang cara termudah bagi orang untuk membangun sebuah persepsi. Sering kali rupa yang terlihat sangar atau wajah yang tampak jutek langsung dicap jahat, padahal keaslian seseorang baru akan terungkap saat komunikasi mulai terjalin secara santun.
Anugerah visual ini sering kali menjadi persepsi dasar yang menjebak karena orang hanya melihat permukaan tanpa tahu isi di dalamnya. Namun, saat ini visual saja tidak cukup karena kita perlu memperkenalkan diri dan menunjukkan siapa kita sebenarnya melalui cara berkomunikasi.
Membangun personal branding di media sosial merupakan cara efektif untuk menyampaikan pesan tentang bagaimana kita bertutur kata dan mengambil sikap. Media sosial menjadi alat bantu untuk menunjukkan karakter asli serta value diri agar orang tidak salah sangka hanya karena kita malas berkomunikasi.
Komunikasi yang benar akan menjawab prasangka orang lain, misalnya tentang seseorang yang terlihat dingin namun ternyata memiliki kepribadian yang sangat baik. Bangunan persepsi ini sangat bergantung pada bagaimana seseorang memperkenalkan dirinya secara konsisten dan terbuka kepada publik.
Namun, kita harus tetap waspada terhadap batas antara pembangunan branding dengan apa yang disebut sebagai pola pencitraan. Branding yang kuat adalah upaya untuk menjadi diri sendiri versi terbaik, sedangkan pencitraan cenderung membentuk sosok yang berbeda dari diri aslinya.
Ketika apa yang ditampilkan di media sosial sangat berbeda dengan kenyataan dirinya, maka hal tersebut hanyalah sebuah pencitraan untuk mencitrakan hal lain. Keaslian adalah kunci utama agar identitas yang kita bangun tidak menjadi kebohongan visual yang justru menjauhkan kita dari jati diri.
Jangan sampai orang terus salah sangka terhadap kita hanya karena kemalasan kita dalam memperkenalkan diri dan berkomunikasi. Ingatlah bahwa menjadi diri sendiri dengan versi terbaik jauh lebih berharga daripada berusaha menjadi orang lain demi sebuah persepsi sesaat.