Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) resmi mengumumkan penunjukan John Herdman sebagai pelatih baru Tim Nasional (Timnas) Sepak Bola Indonesia pada Sabtu, 3 Januari 2026. Kehadiran pelatih asal Inggris ini menandai dimulainya era baru skuad Garuda dengan target pencapaian prestasi yang lebih tinggi di kancah internasional.
Pelatih asal Inggris ini membawa reputasi mentereng sebagai arsitek yang dikenal mampu mengubah budaya tim nasional menjadi kekuatan global yang disegani. Melalui pendekatan yang disiplin dan visioner, Herdman diharapkan mampu membawa perubahan fundamental dalam struktur sepak bola tanah air.
Herdman disebutkan menandatangani kontrak berdurasi dua tahun dengan opsi perpanjangan dua tahun. Dalam klausulnya, dia akan menakhodai Timnas Indonesia senior sekaligus Timnas Indonesia U-23. Misi besar ini dilakukan guna memastikan kesinambungan transisi pemain muda ke jenjang profesional yang lebih kompetitif.
Agenda padat sudah menanti Herdman di sepanjang tahun 2026, dimulai dengan ajang FIFA Series di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Maret mendatang. Selain FIFA Match Day, ia juga akan memimpin Indonesia dalam ajang ASEAN Football Federation (AFF) yang dijadwalkan bergulir mulai 25 Juli.
Awal Karier dan Dominasi Total di Selandia Baru
Lahir di Consett, Inggris, pada 19 Juli 1975, Herdman mengawali karier kepelatihannya dari dunia akademis di Northumbria University. Sambil mengajar, ia mengasah kemampuan manajerialnya di akademi muda klub Sunderland hingga tahun 2001 sebelum akhirnya memutuskan pindah ke Selandia Baru.
Di Selandia Baru, ia bergabung dengan program asosiasi sepak bola nasional pada tahun 2003. Awalnya ia menjabat sebagai Manajer Pendidikan Pelatih dan kemudian naik posisi sebagai Direktur Pengembangan Sepak Bola. Setelah itu, dia dipercaya memimpin Timnas Wanita Selandia Baru pada periode 2006–2011.
Di bawah asuhannya, Timnas Wanita Selandia Baru menjadi kekuatan baru yang disegani di zona Oseania. Ia sukses membawa skuad putri menembus putaran final Piala Dunia Wanita 2007 di Tiongkok dan Piala Dunia Wanita 2011 di Jerman. Prestasi ini juga mencakup partisipasi tim dalam ajang Olimpiade Beijing 2008.
Selain itu, ia membawa Selandia Baru meraih gelar juara OFC Women’s Nations Cup pada 2007 dan 2010. Tak hanya di level senior, Herdman juga mencetak sejarah emas bagi pembinaan usia muda dengan membawa tim nasional putri U-20 meraih kemenangan perdana mereka di ajang Piala Dunia pada tahun 2008.
Atas kontribusinya, ia diakui sebagai Pelatih Sepak Bola Terbaik Selandia Baru pada tahun 2006 dan 2008. Ia juga menerima Penghargaan Inovasi Sport NZ pada tahun 2011. Pencapaian di Oseania inilah yang kemudian membuka jalan baginya menuju panggung sepak bola Amerika Utara yang lebih besar.
Transformasi Fenomenal dan Rekor Dunia di Kanada
Nama Herdman benar-benar meroket saat ia mengambil alih tim nasional wanita Kanada pada tahun 2011. Ia mengambil posisi tersebut dari Carolina Morace setelah Kanada menempati posisi terakhir di grup mereka pada Piala Dunia Wanita FIFA 2011. Saat itu, kondisi tim wanita Kanada sedang dalam keadaan terpuruk.
Di bawah asuhannya, dia langsung memberikan dampak instan dengan mempersembahkan medali emas pada ajang Pesta Olahraga Amerika (Pan American Games) 2011 di Meksiko. Puncak prestasinya bersama Timnas Wanita Kanada terjadi di panggung Olimpiade, di mana ia membawa skuad putri meraih medali perunggu di dua edisi berturut-turut, yakni Olimpiade London 2012 dan Olimpiade Rio 2016.
Keberhasilan luar biasa tersebut membuat federasi mempercayakan tim nasional pria Kanada kepadanya pada tahun 2018. Herdman mewarisi tim pria yang sangat terpecah dengan berbagai pertengkaran antar pemain. Namun, ia bekerja keras untuk menanamkan rasa semangat tim dan persatuan yang kuat.
Hasilnya sangat dramatis; ia sukses membawa Kanada lolos ke putaran final Piala Dunia FIFA 2022 di Qatar setelah penantian panjang selama 36 tahun. Pencapaian ini mengukuhkan Herdman sebagai satu-satunya pelatih dalam sejarah yang mampu meloloskan tim nasional putra dan putri dari satu negara ke Piala Dunia.
Di samping itu, Herdman juga berhasil meroketkan peringkat dunia Kanada secara drastis dari posisi 72 ke posisi 33 dunia pada Februari 2022. Selama tahun 2021–2022, dia bahkan membawa Kanada meraih rekor 17 pertandingan tak terkalahkan berturut-turut, prestasi yang membuat tim asuhannya dianugerahi gelar “Tim Paling Berkembang FIFA”.
Petualangan di MLS Bersama Toronto FC
Pada 1 Oktober 2023, Herdman meninggalkan posisinya di Canada Soccer untuk menangani Toronto FC di Major League Soccer (MLS). Saat pengumuman tersebut, Toronto FC berada di dasar klasemen Wilayah Timur dengan kondisi memprihatinkan, hanya mencatatkan tiga kemenangan dari dua puluh enam pertandingan.
Di bawah asuhannya, Toronto FC mulai menunjukkan taringnya kembali. Salah satu momen ikonik adalah saat Toronto FC mencatatkan selisih kemenangan terbesar melawan rival abadi mereka, CF Montreal, dengan hasil telak 5-1. Hasil ini menjadi bukti tangan dingin Herdman dalam menangani klub profesional.
Herdman juga menunjukkan kualitasnya di level internasional antar klub. Ia membawa Toronto FC mengalahkan pemegang gelar Piala Champions Concacaf, C.F. Pachuca, dengan skor 2-1 dalam laga final grup Piala Liga di BMO Field. Kemenangan ini memberikan suntikan moral besar bagi klub tersebut.
Karier Herdman di Toronto FC berakhir pada November 2024 saat ia memutuskan untuk mengundurkan diri. Sepanjang tahun 2025, namanya terus dikaitkan dengan berbagai tim nasional besar seperti Jamaika dan Honduras sebelum akhirnya PSSI secara resmi mengamankan jasanya untuk memimpin sepak bola Indonesia.
Secara akademis, profil Herdman juga sangat prestisius. Pada tahun 2023, ia dianugerahi gelar Doktor Ilmu Pengetahuan Kehormatan (Doctor of Sciences) dari Northumbria University. Pengalaman kepemimpinan di liga profesional Amerika Utara ini memberikan dimensi baru bagi profilnya sebelum berlabuh di Jakarta.
Misi Kebangkitan Usai Era Patrick Kluivert
Penunjukan John Herdman oleh PSSI menjadi lembaran baru setelah Tim Nasional Indonesia dipastikan gagal melaju ke putaran final Piala Dunia 2026. Kegagalan tersebut terjadi di bawah kepelatihan legenda sepak bola Belanda, Patrick Kluivert, yang dipecat pada 16 Oktober 2025 melalui mekanisme kesepakatan pengakhiran bersama.
Skuad Garuda tersingkir setelah kalah tipis dari Arab Saudi dengan skor 2-3 dan tunduk dari Irak 0-1 pada putaran keempat babak kualifikasi zona Asia. Hasil mengecewakan tersebut membuat PSSI bergerak cepat untuk mencari pelatih yang memiliki spesialisasi dalam membangun ulang tim yang sedang jatuh.
Kini, Herdman memikul beban berat untuk memulihkan mentalitas skuad yang terguncang. PSSI memilihnya karena rekam jejaknya yang teruji mampu membangun ulang tim yang terpuruk, seperti yang pernah ia buktikan saat menangani tim nasional Kanada dan juga perbaikan performa di Toronto FC.
Target utama Herdman adalah membangun kembali struktur permainan dan kolektivitas tim yang solid. Ia dikenal sebagai pemimpin motivasional yang mampu mendorong pemain secara individu maupun kelompok. Penekanannya pada persatuan dan ketahanan nasional menjadi kunci utama yang ingin diterapkan di Indonesia.
Masyarakat sepak bola tanah air kini menaruh harapan besar pada “Sihir Herdman” untuk meroketkan kembali peringkat FIFA Indonesia. Dengan pengalaman membawa tim mencapai peringkat 4 dunia (Wanita Kanada), Herdman diharapkan mampu menciptakan fondasi kejayaan Garuda yang berkelanjutan di masa depan.