Presiden Prabowo Subianto mengeklaim bahwa proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menunjukkan capaian signifikan meski mendapat ejekan dan ramalan kegagalan. Ia menyebutkan bahwa proyek prioritasnya ini telah menjangkau jutaan penerima manfaat, mulai dari anak-anak, ibu hamil, hingga orang lanjut usia atau lansia.
Berdasarkan data yang diterimanya, Prabowo mengungkapkan bahwa proyek MBG ini telah memberi makan bergizi kepada lebih dari 60 juta orang melalui 23.000 SPPG di 38 provinsi. Skala ini menurutnya setara dengan memberi makan seluruh penduduk Afrika Selatan, 10 kali penduduk Singapura, atau dua kali penduduk Malaysia setiap hari.
“Setelah kita terus kita kerjakan, hari ini kita sudah mencapai, laporan dari Kepala BGN (Badan Gizi Nasional, red), 60.200.000 penerima manfaat, di antaranya peran dari Polri,” ungkapnya saat peresmian 1.072 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), 18 Gudang Ketahanan Pangan Polri, dan groundbreaking 107 SPPG Polri di seluruh Indonesia yang berlangsung di Palmerah, Jakarta, pada Jumat, 13 Februari 2026.
Sejak awal MBG diluncurkan, Prabowo mengaku dirinya diejek, dijelek-jelekkan, dan dituduh berbagai hal oleh orang-orang terdidik, termasuk profesor terkenal yang meramalkan proyek ini pasti gagal. Mereka menyebut program ini menghambur-hamburkan uang dan menjelek-jelekkan presiden yang dipilih rakyat secara langsung.
Kepala Negara pun sempat mengaku sedih dengan serangan terhadap proyek MBG yang dibutuhkan rakyat kurang mampu tersebut. Namun, dirinya yakin berada di jalan benar dengan tujuan mulia. “Saya yakin, waktu (peluncuran proyek MBG) itu saya berada di atas jalan yang benar. Saya yakin bahwa tujuan kita benar dan baik,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa alasan utama dirinya menjalankan proyek MBG secara masif di seluruh pelosok negeri ini adalah langkah intervensi langsung pemerintah dalam mengatasi persoalan tengkes atau stunting. Sebab, kata dia, kekurangan gizi kronis tersebut telah menghambat perkembangan sel otak, tulang, dan otot anak-anak Indonesia.
Menurutnya, masalah stunting ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan teori atau narasi yang indah di atas kertas tanpa adanya tindakan nyata dari pemerintah. Ia pun menilai proyek MBG ini sebagai solusi konkret untuk menghentikan proses pemiskinan rakyat yang diakibatkan oleh rendahnya kualitas kesehatan sumber daya manusia.
“Kita tidak bisa dengan teori, tidak bisa hanya dengan kata-kata, dengan program-program indah. Akhirnya, saya belajar dari pengalaman bangsa-bangsa lain, bahwa memang satu-satunya jalan adalah intervensi langsung dari pemerintah (melalui proyek MBG), langsung kepada anak-anak, ibu-ibu hamil, dan orang tua lansia,” ujarnya.
Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa proyek MBG ini sejatinya bukan yang pertama kalinya dilakukan oleh Indonesia. Ia menyebutkan bahwa sekitar 75 negara di dunia, termasuk negara-negara maju dan demokratis, juga mempunyai proyek serupa untuk masyarakatnya. “Kita mungkin negara yang ke-76 atau ke-77,” ungkapnya.
Ia mencontohkan seperti India. Menurutnya, negara yang produk domestik brutonya setengah dari per kapita Indonesia, berani memberi makan gratis untuk 800 juta rakyatnya dan sudah berjalan selama 10 tahun lebih. Bahkan, kata Kepala Negara, program makan gratis ini sudah menjadi undang-undang di Negeri Bollywood tersebut.
Oleh karena itu, ia menegaskan akan terus melanjutkan proyek MBG ini. Ia juga mengaku tak gentar menghadapi berbagai kritik dari masyarakat maupun akademisi. Ia menilai kritik tersebut sebagai bentuk operasi untuk menjelek-jelekkan program yang sangat dibutuhkan rakyat kurang mampu serta presiden yang dipilih langsung oleh rakyat.
“Makan bergizi gratis mungkin tidak penting untuk orang-orang yang cukup berada. Mungkin tidak penting bagi mereka yang di atas. Tapi, di seluruh dunia, yang saya pelajari, makan bergizi gratis adalah sangat-sangat diperlukan oleh mayoritas rakyat,” ungkap mantan Menteri Pertahanan (Menhan) era Presiden Joko Widodo tersebut.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga membantah tudingan bahwa proyek MBG merupakan pemborosan yang menghambur-hamburkan uang negara. Ia mengeklaim bahwa pendanaan proyek ini sepenuhnya berasal dari hasil penghematan anggaran serta peningkatan efisiensi birokrasi yang dilakukan secara sangat ketat.
Ia menyebutkan bahwa dana tersebut dialihkan dari kegiatan tidak produktif seperti rapat di hotel, seminar, hingga kunjungan yang tidak memberikan manfaat nyata bagi rakyat. “Uang (proyek MBG) ini adalah hasil penghematan, efisiensi dari anggaran yang saya dan tim saya yakin, kalau tidak kita hemat, uang ini akan dimakan oleh korupsi,” katanya.
Presiden juga mengeklaim tingkat keberhasilan distribusi makanan dalam proyek MBG sejauh ini mencapai angka yang sangat fantastis. Dari 4,5 miliar porsi makanan yang telah dibagikan kepada masyarakat, Kepala Negara mengungkapkan bahwa persentase kendala kesehatan seperti keracunan yang dilaporkan hanya sebesar 0,0006 persen.
“Saya dapat laporan sampai hari ini sudah kurang lebih 28 ribu penerima manfaat yang mengalami gangguan, dikatakan keracunan, sakit perut, dan sebagainya. Dua puluh delapan ribu dari 4,5 miliar. Kalau tidak salah itu adalah 0,0006 (persen). Artinya? 99,999 (persen) itu berhasil itu. Di mana ada usaha manusia yang 100 persen? Ada, tapi tidak gampang dicapai kita,” ungkapnya.
Ia pun mengeklaim data keberhasilan tersebut lebih baik daripada data yang dimiliki oleh negara-negara maju di Eropa maupun Jepang dalam hal manajemen pangan hariannya. Meski demikian, ia meminta agar pencapaian proyek MBG ini tidak membuat jajaran pemerintah sombong, melainkan tetap rendah hati sesuai filosofi ilmu padi.
Secara ekonomi, lanjut Prabowo, proyek MBG juga berdampak signifikan terhadap peningkatan konsumsi rumah tangga secara nasional yang melonjak tajam pada awal tahun ini. Keberadaan satu dapur atau unit SPPG di tiap daerah juga menciptakan lapangan kerja baru, di mana satu titik mampu menyerap sekitar 50 orang tenaga kerja.
Selain itu, proyek MBG menjadi jaminan ekonomi bagi para petani kecil karena seluruh hasil produksi mereka seperti sayur, telur, dan daging kini diserap langsung. Prabowo pun meyakini bahwa sistem ini adalah perwujudan ekonomi yang sesuai dengan semangat Undang-Undang Dasar 1945 untuk mengejar kemakmuran rakyat seutuhnya.
“Ekonomi kita adalah ekonomi pendiri-pendiri bangsa kita. Kita berada di jalan yang benar, dan kita akan mencapai keberhasilan, dan kita akan bikin kejutan,” tuturnya. Ia pun bertekad untuk terus membuktikan keberhasilan proyek MBG tersebut meskipun banyak pihak asing atau gerakan tertentu yang mencoba mendiskreditkan bangsa.