Kementerian Agama (Kemenag) RI kini tengah gencar mengembangkan konsep ekoteologi guna memulihkan relasi harmonis antara Tuhan, manusia, dan alam semesta. Pendekatan ini dipandang sebagai fondasi krusial bagi arah baru pendidikan keagamaan di Indonesia yang selaras dengan ajaran Tri Hita Karana dalam tradisi Hindu.
Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, menyampaikan urgensi tersebut saat Malam Puncak Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya di Bali. Agenda yang berlangsung di Kampus Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar pada Kamis, 12 Februari 2026 ini juga dihadiri oleh jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag setempat.
Dalam pemaparannya, Menag menyebutkan bahwa ekoteologi sejatinya memiliki akar yang sama dengan nilai-nilai yang telah lama dihayati oleh umat Hindu. Konsep ini menitikberatkan pada tiga hubungan utama, yakni koneksi dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan lingkungan alam (Palemahan).
Namun, Nasaruddin memberikan catatan kritis bahwa praktik ajaran Tri Hita Karana saat ini tengah menghadapi tantangan degradasi nilai di tengah masyarakat. Ia menekankan bahwa kualitas kemanusiaan seseorang tidak dapat dipisahkan dari kondisi ekosistem yang menopang kehidupan mereka sehari-hari.
“Kita tidak mungkin bisa menjadi manusia sejati tanpa lingkungan yang sehat, tidak mungkin bisa menjadi hamba, tidak mungkin bisa menjadi khalifah di muka bumi ini kalau lingkungan alam ini rusak. Jika alam ini rusak, maka manusia pun juga rusak,” tegas Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut.
Nasaruddin juga menyoroti sistem pendidikan modern yang dianggap terlalu didominasi oleh pendekatan rasionalitas dan ketergantungan pada teknologi. “Salah satu tantangan yang kita hadapi sekarang ini dalam dunia pendidikan kita terlalu banyak terkooptasi oleh pemikiran modern yang terlalu mengandalkan otak kiri,” ungkapnya di hadapan para hadirin.
Melalui visi ekoteologi ini, Menag berharap posisi alam dapat dikembalikan sebagai mitra hidup manusia, bukan sekadar pelengkap. “Bahasa agamalah yang bisa menyadarkan manusia untuk mengembalikan posisi alam berbanding lurus dengan kehadiran kita sebagai umat manusia. Ini yang kita kembangkan di Kementerian Agama Ekoteologi,” jelasnya.
Di samping itu, Menag mendorong masyarakat untuk kembali meneladani kearifan tradisional yang memandang alam sebagai saudara, bukan objek eksploitasi. “Masyarakat tradisional kita itu menganggap alam ini adalah sahabat, alam ini adalah saudara kita sendiri,” ujar mantan Wakil Menteri Agama (Wamenag) tersebut.
Tak hanya soal lingkungan, Nasaruddin turut memperkenalkan makna mendalam dari “Kurikulum Cinta” yang menjadi muara dari seluruh ajaran agama. Beliau mengajak seluruh elemen pendidikan untuk melakukan resakralisasi terhadap alam guna membangun generasi baru yang memiliki kepekaan ekologis yang tinggi.
Ia pun berharap semangat keselarasan antara Tuhan, manusia, dan alam ini dapat menjadi kekuatan semua pihak dalam menjaga keseimbangan kehidupan berbangsa ke depan. “Mari kita melakukan resakralisasi alam semesta ini jangan memandang alam semesta ini hanya pelengkap kehidupan umat manusia. Ini partner kita,” tuturnya.