Seniman, kurator, dan pengelola galeri dari berbagai daerah mengikuti lokakarya daring bertajuk “Membangun Ekosistem dan Mengenal Pasar Seni Nasional: Strategi, Tantangan, dan Masa Depan” yang digelar pada Minggu, 8 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi komunitas seni untuk memahami dinamika ekosistem seni rupa dan perkembangan pasar seni di Indonesia.
Lokakarya ini merupakan kolaborasi antara komunitas seni di Jambi, Sketch Jamming dan Majang Puto, dengan sejumlah pelaku ekosistem seni nasional seperti Creativite Indonesia, Artsphere Gallery, dan V&V Gallery. Kegiatan ini diikuti sekitar 70 peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa seni, seniman muda, kurator, pengelola komunitas seni, serta publik yang tertarik pada industri seni.
Dalam kesempatan tersebut, kurator independen sekaligus pendiri Creative Indonesia, Gie Sanjaya, menjelaskan bahwa seni rupa tidak hanya berkaitan dengan produksi karya, melainkan juga sebuah sistem yang melibatkan berbagai aktor dalam ekosistem seni.
“Seni rupa bekerja sebagai sebuah ekosistem yang melibatkan seniman, kurator, galeri, kolektor, institusi seni, hingga publik. Memahami struktur ini penting agar seniman dapat menentukan strategi presentasi karya dan membangun posisi dalam dunia seni,” ungkapnya.
Gie juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap berbagai tipologi pameran dan ruang seni sebagai langkah strategis bagi seniman dalam memperluas jaringan serta visibilitas karya mereka.
Sementara itu, pemilik Artsphere Gallery sekaligus Ketua Asosiasi Galeri Seni Indonesia (AGSI), Maya Sujatmiko, menyoroti peran galeri dalam membangun nilai artistik sekaligus nilai ekonomi karya seni. Menurutnya, galeri memiliki fungsi penting sebagai penghubung antara seniman, karya, dan publik, serta menjadi ruang distribusi yang mempertemukan karya dengan kolektor dan institusi seni.
“Galeri tidak hanya menjadi ruang pamer, tetapi juga berperan dalam membangun reputasi seniman, memperluas jaringan kolektor, serta memperkuat posisi karya dalam ekosistem seni,” ujar Maya.
Dari perspektif pasar seni, pemilik V&V Gallery, Wilian Robin, menjelaskan bahwa keberhasilan seorang seniman tidak hanya ditentukan oleh kualitas karya, tetapi juga oleh konsistensi produksi, identitas artistik, serta rekam jejak pameran. Ia menambahkan bahwa mekanisme penetapan harga karya seni biasanya dipengaruhi oleh reputasi seniman, kompleksitas karya, riwayat pameran, serta permintaan pasar.
“Pasar seni juga terus berkembang. Saat ini kita melihat munculnya kolektor muda, meningkatnya peran art fair, serta semakin luasnya visibilitas seniman melalui platform digital,” kata Wilian.
Lokakarya selama tiga jam ini dikemas dalam format webinar interaktif yang terdiri dari sesi presentasi, diskusi panel, serta tanya jawab dengan peserta. Dalam sesi diskusi, peserta mengangkat berbagai isu mengenai perkembangan ekosistem seni di daerah. Salah satu peserta menanyakan peran festival seni berskala besar seperti biennale dalam pengembangan ekosistem seni di daerah.
Para narasumber menilai kegiatan seperti biennale dapat menjadi momentum penting dalam mempertemukan seniman, kurator, galeri, dan publik dalam skala yang lebih luas. Namun, keberlanjutan kegiatan tersebut memerlukan dukungan ekosistem yang kuat, termasuk kolaborasi antara komunitas seni, institusi kebudayaan, pemerintah daerah, serta dukungan sponsor dan publik.
Diskusi juga menyoroti peluang membangun galeri seni di kota seperti Jambi, mengingat ekosistem seni di Indonesia masih cukup terpusat di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Maya Sujatmiko menilai pembangunan galeri di daerah memiliki potensi tersendiri jika mampu mengembangkan pendekatan yang kontekstual dengan kondisi lokal.
“Galeri di daerah tidak harus mengikuti model kota besar. Justru bisa mengembangkan pendekatan yang lebih dekat dengan komunitas dan konteks lokal,” ujarnya.
Selain itu, peserta juga menyoroti persoalan minimnya kolektor seni di daerah. Menanggapi hal tersebut, Gie Sanjaya menekankan pentingnya membangun ekosistem seni yang sehat melalui konsistensi program pameran, ruang diskusi, serta keterlibatan publik. Menurutnya, kolektor sering kali tumbuh dari kedekatan mereka dengan pengalaman seni dan proses kreatif.
Sementara itu, Wilian Robin menambahkan bahwa pertumbuhan kolektor biasanya berjalan seiring dengan meningkatnya literasi seni di masyarakat. “Edukasi publik, dokumentasi karya yang baik, serta membangun relasi dengan sektor bisnis dan profesional muda bisa menjadi langkah penting untuk memperluas basis kolektor di daerah,” katanya.