Kementerian Agama (Kemenag) menggelar Sidang Isbat penetapan awal bulan Ramadan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi pada Selasa, 17 Februari 2026. Forum musyawarah yang dihadiri berbagai organisasi masyarakat (ormas) Islam ini berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta.
Sidang isbat merupakan upaya negara dalam mengumpulkan laporan hisab (astronomi) serta hasil rukyat (observasi hilal) dari berbagai titik pengamatan. Tradisi yang dimulai sejak tahun 1950-an ini bertujuan menyatukan pandangan dalam penentuan awal bulan penting di kalender Hijriah.
Rangkaian kegiatan diawali dengan seminar posisi hilal oleh pakar astronomi pada pukul 16.30 WIB sore tadi. Sidang isbat secara tertutup dijadwalkan mulai pukul 18.30 WIB, sementara hasilnya akan diumumkan melalui konferensi pers pukul 19.05 WIB.
Pertemuan penting ini turut dihadiri perwakilan duta besar negara sahabat, Komisi VIII DPR RI, Mahkamah Agung, hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pakar dari BMKG, BRIN, ITB, serta pimpinan pondok pesantren juga dilibatkan untuk memastikan akurasi data yang dihimpun.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menegaskan bahwa Sidang Isbat adalah bentuk sinergi antara pemerintah, ulama, dan ilmuwan. Keputusan yang diambil nantinya harus memiliki dasar ilmiah yang kuat sekaligus sesuai dengan ketentuan syariat.
“Kemenag berkomitmen menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam penentuan awal Ramadan. Seluruh data diverifikasi bersama agar keputusan yang dihasilkan menjadi pedoman bagi umat Islam di Indonesia,” ujar Arsad di Jakarta.
Masyarakat dapat memantau jalannya pengumuman hasil Sidang Isbat melalui kanal digital resmi milik Bimas Islam di YouTube, Instagram, dan TikTok. Siaran langsung konferensi pers penetapan Ramadan juga disiarkan melalui kanal YouTube resmi Kemenag RI.
Melalui pelaksanaan Sidang Isbat ini, pemerintah berharap umat Islam dapat memulai ibadah puasa dengan penuh kekhusyukan dan semangat kebersamaan. Sinergi ini diharapkan memperkuat persatuan umat dalam menyambut bulan suci Ramadan.