John Herdman resmi memulai tugasnya sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia dengan ambisi besar untuk meloloskan skuad Garuda ke Piala Dunia 2030. Pelatih asal Inggris ini menegaskan bahwa misi utamanya adalah mencetak sejarah baru dengan membawa Indonesia tampil di panggung tertinggi sepak bola dunia tersebut.
Target ambisius ini didasari oleh keyakinannya bahwa gairah luar biasa dari suporter Indonesia layak dibayar dengan prestasi di level global. “Kelompok pendukung ini, masyarakat ini, mereka layak untuk berada di panggung tertinggi sepak bola dunia,” ungkap Herdman saat konferensi pers di Hotel Mulia, Jakarta, pada Selasa, 13 Januari 2026.
Demi mewujudkan mimpi besar tersebut, Herdman langsung bergerak melakukan akselerasi di balik layar. Ia mengawali mandatnya dengan melakukan penilaian mendalam melalui proses yang ia sebut sebagai fase “mendengar dan mengerti”, guna membongkar setiap celah yang selama ini menghambat langkah Garuda di kancah internasional.
“Ini adalah periode untuk mendengar, memahami, memastikan bahwa setiap orang yang perlu saya dengarkan telah didengar,” tegasnya. Bukti nyata kegesitannya terlihat dari langkah Herdman yang sudah berkomunikasi langsung dengan kapten tim serta menghubungi lebih dari 60 pemain untuk membakar semangat skuad Garuda.
Tak hanya soal personel, Herdman juga menaruh perhatian besar pada detail fasilitas tim, termasuk suasana ruang ganti yang akan menjadi pusat komando taktiknya. Bagi Herdman, ruang ganti adalah tempat sakral di mana mentalitas juara ditempa, sehingga ia ingin memastikan standar profesionalisme dan lingkungan performa tinggi (high-performance environment) benar-benar berdenyut dari sana sejak hari pertama.
Keyakinan Herdman untuk melambungkan Indonesia ke Piala Dunia 2030 berpijak pada rekam jejaknya yang legendaris saat menahkodai Timnas Kanada. Sebelum berlabuh ke Jakarta, ia adalah aktor utama yang berhasil mengakhiri penantian panjang 36 tahun Kanada untuk berlaga di ajang FIFA World Cup 2022 Qatar.
Di bawah arahannya, Kanada bertransformasi dari tim non-unggulan menjadi kekuatan utama di zona CONCACAF yang sangat disegani dunia. Prestasi ini kian mentereng karena Herdman memegang rekor sebagai satu-satunya pelatih di dunia yang mampu meloloskan tim nasional putra dan putri dari negara yang sama ke putaran final Piala Dunia.
Bulan Maret mendatang dipandang sebagai peluang emas pertama bagi Herdman untuk menunjukkan hasil nyata dari transformasi besar ini. Bersama asistennya, Dr. César Meylan, ia berambisi meledakkan standar fisik serta mengimplementasikan sistem performa tinggi berbasis sains olahraga agar penggawa Garuda mampu bertarung habis-habisan melawan negara-negara kuat di level internasional.
“Saya akan membawa pengalaman kualifikasi saya untuk membantu negara ini menuju tempat yang belum pernah dicapai sebelumnya. Kami akan membawa kebiasaan kualifikasi yang selama ini mungkin masih kurang di Indonesia,” tuturnya dengan penuh optimisme. Baginya, meloloskan tim underdog ke panggung dunia adalah spesialisasi yang telah ia asah selama lebih dari dua dekade karier kepelatihannya.
Herdman menekankan bahwa keberhasilan yang ia tuju bukan sekadar kemenangan sesaat, melainkan pembangunan warisan berkelanjutan bagi generasi mendatang. Ia ingin memastikan bahwa identitas sepak bola Indonesia benar-benar berakar dari semangat para pendukungnya yang luar biasa namun didukung oleh sistem profesional yang mumpuni.
“Kita berkomitmen pada sejarah, untuk mencetak sejarah, dan meninggalkan warisan bagi generasi berikutnya agar percaya bahwa kita adalah negara sepak bola,” pungkas pelatih berusia 50 tahun tersebut. Dengan perpaduan pengalaman sukses di Kanada dan pendekatan sains olahraga, era baru menuju Piala Dunia 2030 resmi dimulai.