Iran Umumkan Ali Khamenei Tewas, Termasuk Ali Shamkhani dan Mohammad Pakpour

Pemerintah Iran umumkan kematian Ali Khamenei akibat serangan gabungan Israel-AS ke kediamannya di Teheran, termasuk Ali Shamkhani dan Mohammad Pakpour. Foto: Anadolu Agency

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat ke kediamannya di Teheran, pada Sabtu, 28 Februari 2026. Kabar tersebut disampaikan oleh Kantor Berita Iran, Tasnim dan Islamic Republic News Agency (IRNA), pada Minggu, 1 Maret 2026.

“Pemerintah Iran pada hari Minggu mengonfirmasi syahidnya Ayatollah Seyed Ali Khamenei. Pemimpin Revolusi Islam tersebut telah mati syahid dalam serangan yang dilancarkan oleh rezim Zionis (Israel) dan Amerika Serikat pada Sabtu pagi,” demikian dikutip dari laporan Kantor Berita Tasnim.

Tak hanya Ali Khamenei; Ali Shamkhani, penasihat politik senior Pemimpin Tertinggi Iran, dan Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohammad Pakpour, turut tewas dalam serangan yang sama. Termasuk juga putri, menantu, dan cucu laki-laki dari pemimpin Iran berusia 86 tahun tersebut.

Atas kematian Ali Khamenei tersebut, Iran telah mengumumkan 40 hari masa berkabung nasional. “Ayatollah Khamenei memimpin Iran dan Umat Muslim selama 37 tahun sejak wafatnya mendiang pendiri Republik Islam Imam Khomeini pada tahun 1989,” tulis Kantor Berita Tasnim.

Selain itu, merespons insiden tersebut, Iran juga telah menanggapi agresi Israel-AS. Mereka meluncurkan serangan balasan berupa rudal dan pesawat tanpa awak atau drone secara besar-besaran ke wilayah yang diduduki Israel dan pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan tersebut.

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, mengungkapkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah tewas dalam serangan gabungan yang dilancarkan oleh AS-Israel. Hal tersebut diungkapkan oleh Trump melalui sebuah pernyataan di media sosial Truth pada Sabtu, 28 Februari 2026.

“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas,” ungkap Trump sebagaimana dikutip dari unggahan Gedung Putih di X. Ia menyebutkan bahwa kematian pemimpin Iran tersebut sebagai bentuk keadilan yang telah lama dinantikan rakyat Tanah Persia dan komunitas internasional.

Ia mengungkapkan bahwa Khamenei tidak mampu meloloskan diri dari sistem pelacakan canggih milik intelijen Amerika Serikat. Operasi ini disebut sebagai hasil kerja sama erat dengan pihak Israel untuk melumpuhkan para pemimpin tertinggi yang dianggap bertanggung jawab atas kekejaman global.

Donald Trump mengatakan bahwa peristiwa ini merupakan kesempatan bagi rakyat Iran untuk merebut kembali kedaulatan negara mereka. “Ini adalah satu-satunya kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali negara mereka,” ungkap Presiden AS ke-45 dan ke-47 tersebut.

Ia juga menyebutkan bahwa laporan intelijen AS menunjukkan bahwa banyak anggota Garda Revolusi (IRGC) dan pasukan keamanan Iran mulai enggan untuk berperang. Ia pun menawarkan jaminan kekebalan bagi mereka yang bersedia menyerah dan bergabung dengan gerakan patriotik saat ini.

Meskipun demikian, Donald Trump memperingatkan bahwa serangan udara yang presisi akan terus dilakukan oleh AS dan Israel secara intensif di wilayah tersebut. Operasi ini menurutnya perlu untuk memastikan stabilitas dan menghentikan sisa-sisa kekuatan rezim yang masih bertahan.

Ia mengeklaim bahwa serangan ke Iran tersebut untuk menciptakan perdamaian dunia. “Pemboman yang berat dan presisi akan tetap berlanjut tanpa hanti sepanjang minggu ini, atau selama diperlukan, untuk mencapai tujuan kita, yaitu perdamaian di seluruh Timur Tengah dan tentu saja, dunia,” tegasnya.

Artikel Lainnya

Prabowo Undang SBY hingga Jokowi ke Istana Merdeka, Bahas Isu Nasional hingga Global

3 Bibit Siklon Tropis Kepung Indonesia, BMKG Imbau Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem

Catat Waktunya! BMKG Ungkap Puncak Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Dimulai Pukul 18.03 WIB