Indeks Keberhasilan: Posisi Indonesia di ASEAN

Indeks Keberhasilan Multidimensi mengungkap narasi yang kompleks: ada ASEAN yang makmur, modern, dan berkelanjutan—diwakili Singapura dan sebagian Brunei serta Malaysia. Dan ada ASEAN yang masih bergulat dengan kemiskinan, infrastruktur terbatas, dan degradasi lingkungan. Foto: Freepik

Indeks keberhasilan multidimensi mengungkap kesenjangan besar antarnegara Asia Tenggara—dari negara makmur hingga tantangan pembangunan berkelanjutan.

Pendahuluan

Ketika berbicara tentang keberhasilan sebuah bangsa, angka PDB saja tak cukup. Kualitas hidup rakyat, keberlanjutan lingkungan, hingga akses pendidikan dan kesehatan—semua harus dihitung. Inilah yang coba dijawab oleh Indeks Keberhasilan Multidimensi untuk negara-negara ASEAN.

Dengan formula sederhana namun komprehensif—menggabungkan Ekonomi (E), Sosial-Budaya (S), dan Lingkungan (L) dalam skala 0-100—kita bisa melihat siapa yang benar-benar unggul di Asia Tenggara, dan siapa yang masih berjuang keras.

Singapura: Si Mungil yang Perkasa

Tidak mengherankan, Singapura duduk nyaman di puncak klasemen dengan Indeks Keberhasilan 84,3. Negara kota seluas 734 km² ini membuktikan bahwa ukuran tidak menentukan prestasi.

Komponen Indeks Singapura:

Ekonomi (E): 95,0 — PDB per kapita mencapai US$88.000-132.000, tertinggi di ASEAN bahkan Asia

Sosial-Budaya (S): 94,6 — Human Development Index (HDI) 0.946, mencerminkan angka harapan hidup tinggi, pendidikan berkualitas, dan standar hidup luar biasa

Lingkungan (L): 63,5 — Skor Environmental Performance Index yang solid, meski tetap menghadapi tantangan sebagai negara padat penduduk

“Singapura membuktikan bahwa dengan tata kelola yang baik, lokasi strategis, dan investasi besar-besaran di SDM, sebuah negara tanpa sumber daya alam pun bisa jadi yang terkaya,” kata pengamat ekonomi regional.

Brunei Darussalam: Kaya Minyak, Tapi…

Brunei menempati posisi kedua dengan Indeks 72,7—angka yang impresif namun juga mengkhawatirkan.

Komponen Indeks Brunei:

Ekonomi (E): 85,0 — PDB per kapita US$35.000-37.000, didorong sektor migas

Sosial-Budaya (S): 89,0 — HDI tinggi di kategori “very high human development”

Lingkungan (L): 44,0 — Ketergantungan pada minyak dan gas menjadi kerentanan ganda

Brunei menghadapi dilema klasik negara kaya sumber daya: bagaimana mentransformasi ekonomi sebelum sumur-sumur minyak mengering?

Malaysia dan Thailand: Duo Tengah yang Stabil

Malaysia (Indeks 67,7) dan Thailand (Indeks 66,0) berada di posisi ketiga dan keempat—negara berpendapatan menengah-atas yang sedang berjuang keluar dari “middle-income trap.”

Malaysia:

Ekonomi: 75,0 | Sosial-Budaya: 80,0 | Lingkungan: 48,0

Thailand:

Ekonomi: 70,0 | Sosial-Budaya: 78,0 | Lingkungan: 50,0

Kedua negara ini unggul di sektor manufaktur dan pariwisata, dengan investasi infrastruktur yang konsisten. Namun tantangan lingkungan—dari polusi hingga deforestasi—masih membayangi.

Indonesia: Raksasa yang Tertatih

Indonesia, ekonomi terbesar ASEAN dengan PDB US$1,4 triliun, hanya menempati urutan kelima dengan Indeks 58,0.

Komponen Indeks Indonesia:

Ekonomi (E): 50,0 — PDB per kapita hanya US$5.000, mencerminkan kesenjangan luar biasa antara ukuran ekonomi dan pendapatan per orang

Sosial-Budaya (S): 70,0 — HDI kategori tinggi, tapi masih tertinggal dari negara tetangga

Lingkungan (L): 54,0 — Deforestasi, polusi udara, dan pengelolaan sampah jadi pekerjaan rumah

“Indonesia punya skala, punya populasi 284 juta. Tapi pendapatan per kapita yang rendah menunjukkan tantangan distribusi kekayaan dan pembangunan yang merata,” ungkap ekonom pembangunan.

Yang lebih memprihatinkan: Indonesia hanya mengalokasikan 1,3% PDB untuk pendidikan dan 0,7% untuk pertahanan—termasuk yang terendah di kawasan.

Filipina dan Vietnam: Pendaki Cepat

Filipina (Indeks 56,3) dan Vietnam (Indeks 55,3) menunjukkan tren pertumbuhan menjanjikan, meski dengan catatan penting.

Filipina:

Ekonomi: 55,0 | Sosial-Budaya: 72,0 | Lingkungan: 42,0

Vietnam:

Ekonomi: 60,0 | Sosial-Budaya: 68,0 | Lingkungan: 38,0

Vietnam tampil sebagai kisah sukses transformasi ekonomi pasca-perang, dengan pertumbuhan manufaktur yang pesat. Filipina, dengan populasi muda dan sektor jasa yang kuat, berpotensi besar—jika bisa mengatasi masalah infrastruktur dan korupsi.

Laos, Myanmar, dan Kamboja: Tantangan Berlipat

Di ujung spektrum, tiga negara ini berjuang keras dengan Indeks di bawah 50:

Laos (Indeks 43,3):

Ekonomi: 40,0 | Sosial-Budaya: 60,0 | Lingkungan: 30,0

Myanmar (Indeks 38,7):

Ekonomi: 35,0 | Sosial-Budaya: 58,0 | Lingkungan: 23,0

Mengalokasikan 3,8% PDB untuk militer—tertinggi di ASEAN—mencerminkan prioritas yang kontroversial

Kamboja (Indeks 40,3):

Ekonomi: 38,0 | Sosial-Budaya: 60,6 (HDI 0.606) | Lingkungan: 23,0

Ketiga negara ini menghadapi tantangan berlipat: ekonomi yang rapuh, infrastruktur terbatas, dan krisis lingkungan yang akut. Myanmar, dengan ketidakstabilan politik berkelanjutan, menghadapi tantangan terberat.

Kesenjangan yang Menganga

Angka-angka ini mengungkap kesenjangan dramatis di ASEAN. Singapura dengan Indeks 84,3 hampir dua kali lipat Myanmar yang hanya 38,7. PDB per kapita Singapura 20-25 kali lipat Indonesia.

Peta Kategori Keberhasilan ASEAN:

Sangat Tinggi (80-100): Singapura

Tinggi (70-79): Brunei

Menengah Atas (60-69): Malaysia, Thailand

Menengah (50-59): Indonesia, Filipina, Vietnam

Rendah (<50): Laos, Myanmar, Kamboja

Dimensi Lingkungan: Rapor Merah Kawasan

Jika ada satu area di mana hampir semua negara ASEAN gagal, itu adalah lingkungan. Bahkan Singapura yang paling maju hanya mencapai skor 63,5.

Menurut Environmental Performance Index 2024, negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Myanmar, Laos, dan Pakistan menempati posisi terbawah global. Indonesia, meski tidak di posisi paling buncit, menghadapi krisis kualitas udara, emisi gas rumah kaca, dan kehilangan keanekaragaman hayati.

“Ini alarm keras untuk ASEAN. Pertumbuhan ekonomi tanpa keberlanjutan lingkungan adalah bom waktu,” tegas aktivis lingkungan regional.

Jalan ke Depan: Integrasi atau Fragmentasi?

ASEAN menghadapi pilihan krusial. Dengan total PDB US$3,67 triliun dan populasi lebih dari 600 juta, kawasan ini punya potensi luar biasa. Tapi kesenjangan yang menganga bisa jadi batu sandungan.

Rekomendasi Strategis:

Transfer Teknologi dan Pengetahuan — Negara maju seperti Singapura dan Brunei perlu lebih aktif berbagi praktik terbaik dengan negara tertinggal

Investasi Hijau Bersama — Fokus pada energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan restorasi ekosistem harus jadi prioritas regional

Pemerataan Pendidikan — Alokasi belanja pendidikan harus ditingkatkan, terutama di Indonesia, Vietnam, dan Filipina

Tata Kelola yang Baik — Transparansi, akuntabilitas, dan penegakan hukum jadi kunci kesuksesan jangka panjang

Kerja Sama Iklim Regional — ASEAN perlu platform bersama untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim

Kesimpulan: Cerita Dua ASEAN

Indeks Keberhasilan Multidimensi mengungkap narasi yang kompleks: ada ASEAN yang makmur, modern, dan berkelanjutan—diwakili Singapura dan sebagian Brunei serta Malaysia. Dan ada ASEAN yang masih bergulat dengan kemiskinan, infrastruktur terbatas, dan degradasi lingkungan.

Pertanyaan besarnya: akankah ASEAN tumbuh bersama, atau kesenjangan ini akan semakin menganga?

Dengan komitmen pada pembangunan berkelanjutan, investasi SDM, dan kerja sama regional yang lebih erat, ASEAN punya peluang untuk jadi kisah sukses global abad 21. Tapi tanpa itu, kawasan ini berisiko terfragmentasi—dengan negara-negara kaya berlari kencang, sementara yang miskin tertinggal jauh di belakang.

Jam sudah berdetak. Saatnya ASEAN memilih jalan mana yang akan ditempuh.

Catatan Metodologi:

Indeks Keberhasilan = (E + S + L) / 3

E (Ekonomi): Dinormalisasi dari PDB per kapita PPP, skala 0-100

S (Sosial-Budaya): Dinormalisasi dari Human Development Index, skala 0-100

L (Lingkungan): Dinormalisasi dari Environmental Performance Index, skala 0-100

Sumber Data:

IMF World Economic Outlook 2024/2025
UNDP Human Development Report 2024
Yale Environmental Performance Index 2024
SIPRI / Asian Defense Reports 2024
ASEAN Secretariat Publikasi 2024

Artikel Lainnya

Kenapa Brand Language Sama Pentingnya dengan Logo dan Visual

Melatih Kreativitas dengan SCAMPER Checklist

Salah Sangka karena Kemasan: Pentingnya Komunikasi dalam Personal Branding