Dadik Wahyu Chang, seorang praktisi jenama (branding consultant) dan pegiat kreatif asal Kota Malang, berbincang hangat dengan Mbah Jo dalam sebuah ruang dialog inspiratif. Mbah Jo sendiri merupakan sosok maestro seni tutur dan pembuat wayang suket yang mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan tradisi lisan di Jawa Timur.
Dalam dialog tersebut, Mbah Jo mengungkapkan bahwa pembuatan wayang suket bukan sekadar kerajinan tangan biasa, melainkan sebuah proses matematis yang sarat filosofi Jawa. Ia menjelaskan bahwa setiap hitungan anyaman rumput mendong tersebut memiliki makna mendalam yang berakar pada kearifan lokal masyarakat Jawa.
Angka-angka dalam hitungan menganyam tersebut merepresentasikan konsep Ati, Lati, dan Pakarti sebagai simbol keselarasan antara hati, ucapan, serta perbuatan. Mbah Jo juga menekankan pentingnya mengolah enam indra atau Sat Indra guna menumbuhkan rasa empati yang menjadi fondasi karakter manusia.
Meskipun sangat setia pada akar tradisi, sosok yang memiliki nama asli Syamsul Subakri ini menegaskan bahwa seorang seniman harus berani beradaptasi dan “berkawan dengan masa depan”. Baginya, teknologi dan media baru adalah sarana penting untuk mendistribusikan pesan kebaikan serta nilai-nilai luhur kepada generasi emas Indonesia.
Melalui kemahiran seni tuturnya, Mbah Jo berharap dapat meninggalkan warisan budaya tak benda (intangible heritage) yang nyata bagi masyarakat, khususnya di Kota Malang. Ia berkomitmen memastikan nilai kemanusiaan dan budi pekerti tetap relevan bagi anak-anak muda di tengah arus modernisasi yang kian pesat.