Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, mengungkapkan bahwa pemerintah bakal merelokasi warga yang rumahnya rusak berat atau hancur akibat bencana tanah longsor. Hal itu disampaikannya saat melakukan kunjungan ke lokasi terdampak di Cisarua, Bandung Barat, pada Rabu, 28 Januari 2026.
Suharyanto mengatakan bahwa saat ini BNPB dan pemerintah daerah telah mendata jumlah rumah rusak berat atau hancur akibat tanah longsor tersebut, yakni ada sebanyak 48 unit. Selain rumah pada kondisi tersebut, ia juga menyampaikan perlunya identifikasi rumah-rumah yang terancam dan harus direlokasi.
“Badan Geologi Kementerian ESDM juga sedang mendata. Kira-kira, di samping 48 tadi, apakah ada rumah-rumah masyarakat yang memang harus direlokasi,” ujarnya. Kepala BNPB mengaku telah meminta pemerintah daerah untuk segera mencarikan lokasi atau lahan yang nantinya diperuntukkan bagi relokasi warga terdampak.
Dalam kesempatan tersebut, Suharyanto mengungkapkan bahwa pemerintah melalui BNPB juga akan memberikan dana tunggu hunian (DTH) kepada keluarga terdampak langsung dan saat ini tinggal bersama keluarga atau kerabat. Ia mengatakan bahwa bantuan tersebut akan diberikan mulai bulan Januari ini hingga Maret nanti.
“Kemudian, apabila mereka memang terdampak langsung dan harus mengungsi di rumah keluarganya, tidak apa-apa. Haknya juga akan diberikan kalau rumahnya rusak, hilang, atau rusak berat. Mereka juga akan mendapatkan dana tunggu hunian,” ungkap mantan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) V/Brawijaya tersebut.
Suharyanto menambahkan bahwa hingga kini tim SAR gabungan dengan dibantu alat berat dan anjing pelacak masih terus melakukan operasi pencarian. Ia mengatakan bahwa masa tanggap darurat ditargetkan selesai dalam dua minggu ini dan tidak diperpanjang. Ia juga berharap situasi pascabencana dapat segera kembali pulih dan terkendali.
Berdasarkan data terbaru, dia mengatakan bahwa tim operasi pencarian dan pertolongan (Search and Rescue-SAR) gabungan telah berhasil menemukan total 53 jenazah korban tanah longsor. Dari jumlah tersebut, dia menyebutkan bahwa 35 jenazah di antaranya telah berhasil teridentifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI).
Dalam mendukung operasi pencarian, ia mengatakan bahwa BNPB turut melakukan Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC. Menurutnya, hal ini dilakukan karena cuaca hujan yang terjadi di lokasi memperlambat upaya pencarian serta kondisi tanah yang labil akan membahayakan para personel saat beroperasi di kawasan longsoran.
“Cuaca (di lokasi terdampak tanah longsor) hujan terus. Namun, kita melakukan operasi modifikasi cuaca. Alhamdulillah bisa membantu, walaupun tidak sama sekali menghentikan (hujan),” ujarnya. Untuk itu, jika cuaca di lokasi terang, dia menyebutkan bahwa para personel SAR akan segera melakukan pencarian dan evakuasi di lokasi terdampak.