Banjir melanda Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, akibat curah hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak Rabu, 7 Januari 2025, sekitar pukul 04.00 WIT. Hujan deras yang berlangsung dalam waktu cukup lama ini menyebabkan meluapnya aliran air dan menggenangi permukiman warga serta memutus akses jalan di sejumlah wilayah.
Adapun wilayah terdampak banjir meliputi lima kecamatan dengan sembilan desa, yaitu Kecamatan Ibu (Desa Gamlamo, Tongute Ternate, Tongute Ternate Asal, dan Gamici), Kecamatan Sahu Timur (Desa Gamoneng), Kecamatan Tabaru (Desa Duomo dan Goin), Kecamatan Ibu Selatan (Desa Talaga), serta Kecamatan Loloda (Desa Soasio).
Dari kejadian ini, dilaporkan dua orang meninggal dunia di Desa Soasio, Kecamatan Loloda. Selain itu, sebanyak 726 kepala keluarga atau sekitar 3.444 jiwa terdampak langsung, dengan sekitar 1.500 jiwa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman, sementara ini menumpang di rumah warga yang tidak terdampak, sekolah, serta balai desa.
Kerugian material akibat banjir di Kabupaten Halmahera Barat ini cukup besar. Tercatat sebanyak 726 unit rumah terdampak dengan rincian 34 unit rumah rusak berat, 3 unit rumah rusak sedang, dan 286 unit rumah rusak ringan. Selain itu, satu unit ruko dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat bencana tersebut.
“Kondisi ini semakin memperberat beban masyarakat yang harus kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat bencana,” ungkap Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, dalam keterangan resminya pada Kamis, 8 Januari 2025.
Banjir melanda permukiman warga dan memutus akses jalan di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, akibat curah hujan tinggi yang mengguyur sejak Rabu, 7 Januari 2025. Foto: Dok. BPBD Kabupaten Halmahera Barat
Dalam penanganan darurat, Abdul Muhari mengungkapkan bahwa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Barat telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk melaksanakan asesmen di lokasi terdampak. Upaya evakuasi warga juga terus dilakukan, terutama bagi kelompok rentan.
Sebagai langkah awal pemenuhan kebutuhan dasar, dia mengatakan bahwa BPBD Kabupaten Halmahera Barat telah menyalurkan bantuan berupa beras sebanyak satu ton dan 500 dus mi instan kepada masyarakat terdampak. Saat ini, kebutuhan mendesak di lokasi bencana meliputi tenda, terpal, matras atau alas tidur, makanan siap saji, sembako, paket bayi, selimut, family kit, serta perlengkapan kebersihan.
Berdasarkan kondisi terkini yang diterima BNPB, Abdul Muhari menyebutkan bahwa banjir di sebagian wilayah terdampak telah mulai surut. Namun, curah hujan masih terpantau sangat tinggi. “BMKG memperkirakan potensi cuaca ekstrem masih akan berlangsung di wilayah Halmahera Barat pada periode 5–11 Januari 2026,” ungkapnya.
Hingga saat ini, Abdul Muhari mengatakan bahwa jaringan listrik dan akses komunikasi di beberapa lokasi masih terputus. Lokasi pengungsian sementara berada di rumah penduduk, SD Tongute Ternate, dan Balai Desa Tongute Ternate Asal. Melihat kondisi tersebut, diperlukan penetapan status tanggap darurat oleh Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat guna mempercepat dan mengoptimalkan upaya penanganan bencana.
“BNPB mengimbau masyarakat Kabupaten Halmahera Barat, khususnya yang berada di wilayah rawan banjir, agar tetap waspada dan mengutamakan keselamatan diri serta keluarga. Warga diminta menghindari daerah rawan, segera mengungsi ke tempat aman apabila kondisi memburuk, serta mengikuti arahan dan informasi resmi dari pemerintah daerah dan petugas di lapangan,” tuturnya.